Langkah kecil itu selalu memberikan warna di setiap sudut yang ia datangi. Senyum ceria dan keramahannya membuat siapa saja akan gemas dengan gadis kecil itu. Dara, gadis kecil berusia 8 tahun itu mampu memberikan kebahaggiaan hanya dengan senyuman manisnya. Tingkah lucu dan polosnya selalu menimbulkan gelak tawa orang-orang di sekitarnya. Dara tinggal di daerah kompleks Kraton Yogyakarta bersama kakek dan neneknya. Kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan motor saat Dara berusia 5 tahun. Dara merupakan anakan tunggal sehingga begitu orang tuanya meninggal kakek dan neneknya langsung merawatnya. Tetapi kehidupan kakek dan neneknya bisa dibilang jauh dari kata berkecukupan. Kakeknya seorang tukang becak dan neneknya berjualan jajanan pasar di Pasar Beringharjo.
Dara merupakan anak yang cerdas dan pintar. Dia mendapatkan beasiswa selama SD dari sebuah yayasan. Sepulang sekolah, gadis kecil itu selalu berjualan kartu pos di beberapa destinasi wisata di Yogyakarta seperti Keraton, Tamansari, dan kawasan Malioboro untuk membantu kakek dan neneknya. Di sela-sela ia menjajakan daganagnnya ia selalu melukis objek yang menarik di destinasi wisata yang ia sambangi untuk berjualan. Siang itu, ia berjualan di kawasan nol km Jogja. Sambil meneduh, gadis kecil itu mengeluarkan alat gambarnya yang sederhana. Ia mencoba menggambar suasanan nol km lengkap dengan kereta kuda dan becak yang sedang menunggu penumpang. Ia menggambar di buku gambar yang ia beli dari hasil menabung. Sudah ada belasan bahkan puluhan lukisan Dara yang ada di buku itu.
Kakek dan neneknya tahu jika Dara suka menggambar tetapi mereka tidak begitu paham bagaimana menyalurkan hobi cucunya itu karena keterbatasan biaya dan ketidaktahuan mereka karena hanya lulusan SD. Beberapa tetangga terkadang memberikan Dara crayon atau alat gambar karena kepiawaiannya tersebut sudah dikenal di kalangan warga. Dara juga sering menjuarai kontes mewarnai dan menggambar sejak TK. Di rumahnya berjejeran berbagai macam piala dan penghargaan.
Sore itu, ia menjajakan dagangan di kawasan Malioboro. Ia sedang beristirahat dan hendak memulai menggambar. Tiba-tiba datanglah seorang bule cantik mengahmpiri Dara. Dara menyapanya dengan kemampuan bahasa inggris yang ia pelajari otodidak. Bule itu pun tersenyum dan menjawab pertanyaan Dara dengan bahasa Indonesia yang lumayan lancar. Bule itu memperkenalkan diri, namanya Jane dari Belanda. Jane tertarik untuk membeli kartu pos yang dijual Dara. Sesekali Jane melirik pada buku gambar Dara. Jane memuji kepiawaian Dara dalam melukis.
Beberapa hari kemudian, Dara berjualan kartu pos di Taman Sari. Dengan lincahnya, ia menghampiri para wisatawan untuk menawarkan dagangannya. Tak sengaja, ia bertemu lagi dengan Jane. Pada kesempatan kali ini Jane mengamati setiap gerak-gerik gadis cantik itu. Dara terlihat sangat ceria dan lincah. Ia juga ramah ke semua orang. Jane menghampiri anak itu saat istirahat sambil membawa sebotol minuman dingin. Dara menerimanya dengan riang gembira dan ribuan terimakasih. Mereka pun asyik mengobrol dan bertukar cerita. Jane adalah seorang dosen di sebuah universitas seni terkemuka di Belanda. Saat ini, ia sedang melakukan penelitian untuk disertasinya mengenai seni mural di Yogyakarta. Jane sudah menetap di Jogja selama enam bulan. Sebelumnya, ia pernah menghabiskan masa kecilnya di Lombok sehingga tidak heran jika bahasa Indonesianya lumayan lancar untuk ukuran seorang warga asing.
Pada kesempatan ini Jane ingin mngeksplor lebih dalam lagi mengenai bakat Dara di dunia seni setelah sebelumnya ia pernah melihat sekilas lukisan Dara. Jane meminta Dara untuk menggambarkan sedikit bagian dari Taman Sari dan dengan senang hati gadis kecil itu pun mengiyakan. Jane memperhatikannya dengan seksama. Ia begitu takjub dengan bakat yang dimiliki Dara. Diam-diam dia merekam dan mengambil foto Dara saat melukis. Tidak butuh waktu lama untuk Dara menyelesaikan permintaan Jane tersebut. Dara pun menyerahkan hasil gambarannya itu kepada Jane. Sebagai ucapan terimakasih, Jane mengajak anak itu ke toko alat tulis untuk membeli peralatan menggambar. Betapa senangnya Dara mendengar hal itu, tak hentinya ia berterimakasih kepada Jane.
Sepulang dari membeli alat-alat melukis, Jane mengantar Dara pulang ke rumah. Neneknya belum pulang, hanya ada kakeknya yang baru saja pulang dari membecak. Dara mempersilakan Jane masuk di rumah sederhananya. Jane terpaku melihat beberapa piala dan paiagam penghargaan yang dimiliki Dara. Ia semakin kagum dengan anak kecil itu. Difotonya Dara dengan background piala dan piagam-piagamnya itu. Tidak selang lama, Jane pun pamit undur diri karena hari mulai gelap.
Hari itu sudah mulai liburan sekolah. Itu tandanya waktu bagi Dara untuk mngais rezeki lebih dibanding hari-hari biasanya karena wisatawan akan membanjiri Yogyakarta apalagi tempat berjualan Dara merupakan destinasi wisata favorit di Yogyakarta. Dara jarang sekali bisa merasakan liburan seperti teman-temannya. Selain keterbatasan ekonomi, hari libur baginya adalah hari di mana ia bisa menghasilkan uang lebih untuk diberikan kepada kakek neneknya. Kali ini ia mencoba peruntungan di kawasan nol km Yogyakarta.
Saat ia sedang menggambar, tiba-tiba rombongan satpol PP datang untuk menertibakan pedagang kaki lima dan anak jalanan. Karena ketakutan, Dara pun langsung berlari dan lupa untuk membawa buku gambar kesayangnnya itu. Dari kejauhan, Jane melihat Dara lari ketakutan dan meninggalkan buku gambarnya. Jane lalu menghampiri tempat Dara menggambar tadi dan mengambil buku gambar Dara. Dilihatnya coretan gambar Dara, sungguh menakjubkan untuk usia anak 8 tahun. Jane terkesima dan ia pun langsung lari mengejar Dara.
Sesampainya di rumah Dara, Jane langsung menemui Dara dan kebetulan ada neneknya di rumah. Tanpa basa-basi, Jane langsung mengungkapkan bahwa ia sangat kagum akan bakat Dara dan bermaksud untuk memberikan Dara beasiswa untuk kuliah di tempatnya mengajar di Belanda. Ia bercerita bahwa dirinya telah mengirimkan foto dan video Dara saat menggambar kepada profesornya di Belanda dan profesornya tersebut langsung tertarik untuk memberikan Dara beasiswa. Dara dan neneknya pun kaget bukan main. Dara sanagt girang dan bersyukur. Tak henti-hentinya ia mencium tangan Jane dan memeluknya. Nenek Dara terharu dan berkali-kali mengucapkan terimakasih kepada Jane. Untuk saat ini, Dara dimasukkan ke sanggar lukis oleh Jane untuk bekal dasar sebelum nanti setelah lulus SMA akan kuliah di bidang seni lukis.
Setelah kejadian itu, hari-hari Dara selalu dipenuhi dengan keceriaan. Gadis kecil itu tetap berjualan kartu pos di kawasan Malioboro, Keraton, dan Tamansari. Bahkan kini ia menerima jasa lukis untuk setiap wisatawan yang memintanya untuk melukis. Ia juga mulai menjajakan hasil lukisannya kepada wisatawan yang ia temui. Gadis kecil itu bertekad untuk mebahgaiakan kakek dan neneknya yang telah berjasa merawatnya dan tentunya semua ini ia persembahkan untuk almarhum orangtuanya.
Komentar
Posting Komentar